Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Tugas Kuliah. Show all posts

Saturday, 24 October 2015

PARAGRAF NARASI, DESKRIPSI DAN ARGUMENTASI

PENGERTIAN PARAGRAF NARASI, DESKRIPSI DAN ARGUMENTASI



A.      Paragraf Narasi
1.        Pengertian Paragraf Narasi
Narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah – olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. Oleh sebab itu, unsur yang paling penting pada sebuah narasi adalah unsur peristiwa atau tindakan (Keraf, 1982:136). Dalam paragraf narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan sejelas-jelasnya kepada pembaca tentang tindak tanduk ( perbuatan ) yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang telah terjadi dalam suatu kesatuan waktu.
2.        Ciri – ciri  Paragraf Narasi
Ciri – ciri paragraf narasi yang paling mudah diidentifikasi adalah adanya pola secara sederhana berbentuk susunan dengan urutan awal – tengah – akhir (Wikipedia, 2011).
a.    Awal narasi biasanya berisi pengantar yaitu memperkenalkan suasana dan tokoh. Bagian awal harus dibuat menarik agar dapat mengikat pembaca.
b.    Bagian tengah merupakan bagian yang memunculkan suatu konflik. Konflik lalu diarahkan menuju klimaks cerita. Setelah konflik timbul dan mencapai klimaks, secara berangsur-angsur cerita akan mereda.
c.    Akhir cerita yang mereda ini memiliki cara pengungkapan bermacam – macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada pula yang berusaha menggantungkan akhir cerita dengan mempersilakan pembaca untuk menebaknya sendiri.
3.        Jenis – jenis Paragraf Narasi
Ada pun jenis – jenis paragraf narasi adalah :
a.    Narasi ekspositoris
Narasi ekspositoris adalah narasi yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada pembaca agar wawasannya bertambah luas ( memperluas pengetahuan orang ). Dengan narasi ekspositoris penulis ingin menggugah pikiran pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi ekspositoris dapat bersifat umum ( generalisasi ) dan dapat pula bersifat khusus atau khas.
Narasi ekspositoris yang bersifat umum adalah narasi yang menyampaikan suatu proses atau peristiwa yang umum, yang dapat dilakukan secara berulang-ulang.
Contoh :
Seperti biasa aku bangun pagi-pagi sekali. Setelah membereskan kamar dan melaksanakan shalat subuh, aku mulai sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi. Pertama-tama aku merebus air untuk membuat susu dan teh. Lalu mencuci beras dan memasukannya kedalam rice cooker. Kemudian memotong sayuran dan meracik bumbu untuk membuat lauk. Tak lama kemudian suara dipenggorengan terdengar. Aroma masakan ku mulai tercium dan membangunkan suami ku.

Narasi ekspositoris yang bersifat khusus atau khas adalah narasi yang berusaha mengisahkan suatu peristiwa yang khas, yang hanya terjadi satu kali.peristiwa khas adalah peristiwa yang tidak dapat diulang kembali, karena merupakan pengalaman atau kejadian pada suatu waktu tertentu, misalnya pengalaman diterima di perguruan tinggi.
Contoh :
Ratusan warga mengalami keracunan. Musibah itu terjadi enam jam  setelah mereka menyantap hidangan dalam hajatan sunatan di rumah Rusdi (38), warga Desa Jompo Kulon, kecamatan Sokaraja, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sekitar 150 penduduk dari beberapa desa dibawa ke puskesmas. Beruntung tak ada korban meninggaldalam musibah tersebut.

b.    Narasi sugestif
Narasi sugestif adalah narasi yang berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Narasi sugestif bertujuan untuk memberikan gambaran situasi yang terjadi dengan menggunakan kata-kata konotatif sehingga mampu membawa khayalan pembaca. Jenis paragraf seperti ini bisa di temukan di roman, cerpen, hikayat, dongeng dan novel.
Contoh :




Berikut adalah perbedaan antara narasi ekspositoris dan narasi sugestif :
Narasi ekspositoris
Narasi sugestif
1.    Memperluas pengetahuan.
1.     Menyampaikan suatu makna atau suatu amanat yang tersirat
2.    Menyampaikan informasi mengenai suatu kejadian.
2.    Menimbulkan daya khayal atau menggugah daya imajinasi pembaca
3.    Didasarkan pada penalaran untuk mencapaik kesepakatan rasional.
3.    Penalaran hanya berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan makna, sehinga kalau perlu penalaran dapat dilanggar
4.    Bahasanya lebih condong ke bahasa informatif, lugas, dengan titik berat pada penggunaan kata-kata denotatif.
4.    Bahasanya lebih condong ke bahasa figuratif, kias, majas, dengan menitikberatkan penggunaan kata-kata konotatif.



4.        Narasi Fakta Dan Narasi Fiktif
1). Narasi Fakta
Narasi yang berisi fakta disebut narasi ekspositoris. Narasi yang berdasarkan fakta atau nonfiktif ada beberapa bentuk khusus, yaitu (a) otobiografi dan biografi yang berisi sejarah riwayat hidup seorang tokoh, (b) anekdot dan insiden yang dialami oleh seorang tokoh, (c) sketsa, dan (d) profil. Sementara itu, semua jenis karya sastra termasuk narasi fiktif atau rekaan.
a.         Otobiografi dan biografi
Perbedaan antara otobiografi dan biogafi terletak pada narator (pengisah atau pencerita)-nya, yaitu siapa yang bercerita dalam wacana itu. Narator dalam otobiografi adalah tokohnya sendiri, sedangkan narator dalam biografi adalah orang lain. Keduannya mempunyai kesamaan, yaitu menyampaikan kisah yang menraik mengenai kehidupan dan pengalaman-pengalaman pribadi. Otobiografi dan biografi dapat ditulis secara ringkas untuk keperluan penerbitan dalam media massa cetak atau elektronik seperti majalah, surat kabar dan internet; ditulis sangat ringkas untuk lema ensiklopedia. Namun dapat juga ditulis secara utuh tersendiri melalui penelitian yang panjang menjadi sebuah buku otobiografi atau biografi.
b.        Anekdot dan insiden
Anekdot dan insiden sering berfungsi sebagai bagian dari otobiografi, biografi, atau sejarah seorang tokoh. Anekdot dan insiden mengisahkan suatu rangkaian tindak-tanduk atau perbuatan dalam suatu unit waktu tersendiri.
c.         Sketsa
Sketsa adalah suatu bentuk wacana yang singkat dan dikembangkan dengan menggunakan detail-detail yang terpilih berdasarkan suatu kerangka perbuatan yang naratif.
d.        Profil
Kata profil diturunkan dari bahasa latin: pro + filo berarti ‘di muka’ atau ‘ke muka’; dan filum berarti ‘garis’, ‘benang’ atau ‘kerangka’. Dalam bahasa Indonesia kata profil berarti (1) pandangan dari samping tentang wajah seseorang); (2) lukisan/gambar orang dari samping; sketsa biografis; (3) penampang (tanah, gunung, daerah, dan sebagainya); (4) grafik atau ikhtisar yang memberikan fakta tentang hal-hal yang khusus ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001:897).profil memperlihatkan ciri-ciri utama dari seorang totkohyang dikisahkan bedasarkan suatu kerangka yang telah digariskan di muka atau sebelumnya. Profil sering berhasil meninggalkan kesan yang dominan mengenai subjeknya. Bila kita selesai membaca sebuah profil yang baik, kita merasakan bahwa kita telah berjumpa dengan suatu kepribadian dari individu yang sesungguhnya.

2). Narasi Fiktif
Contoh narasi fiktif adalah cerpen dan novel.



5.        Memperbaiki dan Menyusun Paragraf Narasi
Untuk menyusun paragraf narasi dan memperbaiki paragraf tersebut, diperlukan daya kreativitas. Kreativitas ini dimulai dengan mencari, menemukan, dan menggali ide. Oleh karena itu, cerita dirangkai dengan menggunakan “rumus” 5 W + 1 H, yang dapat disingkat menjadi adik simba (Wikipedia, 2011), yakni :
1.      (What) apa yang diceritakan,
2.      (Where) di mana setting/lokasi ceritannya,
3.      (When) kapan peristiwa-peristiwa berlangsung,
4.      (Who) siapa pelaku ceritanya,
5.      (Why) mengapa peristiwa-peristiwa,
6.      (How) bagaimana cerita itu dipaparkan.


B.       Paragraf Deskripsi
1.        Pengertian Paragraf deskripsi
Kata deskripsi berasal dari kata bahasa Latin describere yang berarti menggambarkan atau memerikan sesuatu. Dari segi istilah,  deskripsi adalah suatu bentuk karangan yang melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya, sehingga pembaca dapat mencitra (melihat, mendengar, mencium dan merasakan) apa yang dilukisakan itu sesuai dengan citra penulisnya. Karangan jenis ini bermaksud menyampaikan kesan-kesan tentang sesuatu, dengan sifat dan gerak-eriknya, atau sesuatu yang lain kepada pembaca. Sesuatu yang dapat dideskripsikan tidak hanya terbatas pada apa yang kita lihat dan kita dengar saja, tetapi juga yang dapat kita rasa dan kita pikir, seperti rasa takut, cemas, tegang, jijik, haru dan kasih sayang. Begitu pula suasana yang timbul dari suatu peristiwa, seperti suasana mencekam, putus asa, kemesraan, dan keromantisan panorama pantai. Singkatnya, deskripsi merupakan karangan yang kita susun untuk melukiskan sesuatu dengan maksud untuk menghidupkan kesan dan daya khayal mendalam pada si pembaca ( Suparno, 2001:4.3).
Dalam bahasa yang agak berbeda dijelaskan bahwa paragraf deskripsi adalah suatu bentuk pengungkapan gagasan yang terjalin dalam rangkaian beberapa kalimat yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Paragraf deskripsi juga disebut paragraf yang melukiskan dan memberikan suatu hal atau masalah dengan serinci-rincinya atau sejelas-jelasnya. Arifin (2008:131) menyatakan bahwa paragraf deskripsi ini melukiskan apa yang dilihat di depan mata yang berkaitan dengan ruang dan waktu. Jadi, paragraf deskripsi bersifat tata ruang atau tata letak dan juga waktu. Pembicaraannya dapat berurutan dari yang paling bawah hingga ke paling atas, dari paling atas hingga paling bawah, dari depan ke belakang, dari belakang ke depan, dari samping kiri ke kanan, dan seterusnya.
Contoh :





2.        Ciri – ciri Paragraf Deskripsi
Ciri deskripsi yang paling membedakan dengan ciri paragraf lainnya adalah adanya keterjalinan kalimat-kalimat yang disusun panca indera pembacanya. Keterjalinan yang dibangun kadang juga menggambarkan dimensi ruang, waktu, suasana, atau bahkan rasa. Ciri paragraf deskripsi adalah (a) menggambarkan sesuatu, (b) penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera, (c) membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri (http://id.wikipedia.org/wiki/karangan,2011)
3.        Pola Pengembangan Paragraf Deskripsi
Pola pengembanganparagraf deskripsi terdiri atas 3 hal, yakin (a) pola pengembangan paragraf deskripsi spasial, (b) pola pengembangan deskripsi subjektif, dan (c) pola pengembangan deskripsi objektif.
a.         Pola pengembangan paragraf deskripsi spasial
Yang dimaksud dengan pola pengembangan paragraf deskripsi spasial adalah bahwa paragraf yang dikembangkan berdasarkan dengan menggambarkan objek khusus ruangan, benda atau tempat.
Contoh :
Rumah Rizky terletak di jalan KH. Yakup no 12 Tegal. Rumah bertipe minimalis klasik itu bercat hijau dengan halaman yang luas ditumbuhi pohon mangga. Di samping bawah tedapat ayunan juga bangku yang biasa digunakan oleh sang pemilik rumah untuk bersantai-ria bersama keluarga. Dipojok kanan halaman aneka tanaman hias tumbuh berjejer rapi nampak begitu terawat. Ada kaktus, lili brazil, agave, asoka dan tak ketinggalan pula mawar putih kesukaa tante Mirna, ibu Rizky yang begitu telaten merawat kebun mini kesayangannya.
b.        Pola pengembangan paragraf deskripsi subjektif
Pola pengembangan deskripsi subjektif adalah ola pengembangan paragraf yang menggambarkan  objek seperti tafsiran atau kesan perasaan penulis.
Contoh :



c.         Pola pengembangan paragraf deskripsi objektif
Pola pengembangan paragraf deskripsimobjektif adalah pengembangan paragraf dengan mendasarkan pada penggambaran ojek dengan apa adanya atau sebenarnya.
Contoh :



4.        Pendekatan Paragraf Deskripsi
Paragraf deskripsi dapat dibedakan atas pendekatan ekspositoris, pendekatan impersionistik, dan pendekatan menurut sikap pengarang (Suparno, 2001:4.7-4.11).
a.         Pendekatan ekspositoris
Pendekatan ekspositoris merupakan pendekatan dalam penulisan paragraf deskripsi yang disusun dengan tujuan dapat memberi keterangan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga pembaca seolah-olah dapat ikut melihat atau merasakan objek yang kita deskripsikan. Titik berat yang ditimbulkan adalah diperolehnya kesan yang lebih banyak didasarkan atas proses penalaran daripada emosional.
b.        Pendekatan impersionistik
Pendekatan impersionistik merupakan pendekatan dalam penulisan paragraf deskripsi yang ditujukan untuk mendapatkan tanggapan emosional pembaca ataupun kesan pembaca.
c.         Pendekatan menurut sikap pengarang
Pendekatan menurut sikap pengarang merupakan pendekatan dalam penulisan deskripsi yang sangat bergantung kepada tujuan yang ingin dicapai, sifat objek, serta pembaca deskripsinya. Dalam menguraikan sebuah gagasan, penulis mungkin mengharapkan agar pembaca merasa tidak puas terhadap suatu tindakan atau keadaan, atau penulis menginginkan agar pembaca juga harus merasakan bahwa persoalan yang tengah dihadapi merupakan masalah yang gawat. Penulis juga dapat membayangkan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,sehingga pembaca dari mula sudah disiapkan dengan sebuah perasaan yang kurang enak, seram, takut, dan sebagainya (Akhaidah, dalam Suparno, 2001:4.12).
5.        Memperbaiki dan Menyusun Paragraf Deskripsi
Dalam menyusun paragraf deskripsi, apapun corak pengembangannya, haruslah selalu memenuhi persyaratanpengembangan paragraf. Menurut Akhaidah dkk. (1999:148) sebuah paragraf yang baik mempunyai tiga syarat, yaitu (1) kesatuan, (2) kepaduan, dan (3) kelengkapan. Dalam menyusun paragraf deskripsi, ketiga syarat tersebut harus hadir. Artinya, jika saat pengembangan terdapat kalimat yang tidak satu ide pokok, tidak menunjukan kepaduan, dan tidak menunjukan kelenkapan, maka kalimat-kalimat tersebut tidak dapat disebut membangun paragraf deskripsi.
Untuk mempermudah dalam menyusun paragraf deskripsi, berikut disajikan rambu-rambu (Suparno, 2002:4.21) yang dapat diikuti.
1.      Tentukan apa yang akan dideskripsikan: misalnya apakah akan mendeskripsikan orang atau mendeskripsikan tempat.
2.      Rumuskan tujuan pendeskripsian: apakah deskripsi dilakukan sebagai alat bantu karangan narasi, eksposisi, argumentasi, persuasi atau tujuan lain yang sifatnya reportase.
3.      Tetapkan bagian yang akan dideskripsikan: kalu yang dideskripsikan oran, apakah yang akan dideskripsikan itu ciri-ciri fisik, watak, gagasannya atau benda-benda disekitar tokoh?, kalau yang dideskripsikan tempat, apakah yang akan dideskripsikan keseluruhan tempat atau hanya bagaian-bagian tertentu saja yang menarik ?. Jadi, dalam tahap ini harus mengumpulkan data dengan mengamati objek yang ditentukan serta menyusunnya ke dalam urutan yang padu.
4.      Rinci dan sistematiskan hal-hal yang menunjang kekuatan bagian yang akan dideskripsikan: hal-hal apa saja yang akan ditampilkan untuk membantu memunculkan kesan dan gambaran kuat mengenai sesuatu yang dideskripsikan?, atau pendekatan apa yang akan digunakan penulis.


C.      Paragraf Argumentasi
1.        Pengertian Paragraf Argumentasi
Paragraf argumentasi adalah paragraf yang bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/kesimpulan dengan data/fakta sebagai alasan/bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan kebenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau asalan sebagai penyokong opini tersebut (Wikipedia, 2011). Dalam bahasa yang berbeda, Suparno (2002:5.33) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan paragfar argumentasi adalah paragraf yang terdiri atas paparan alasan dan penyintensisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Dengan demikian, karangan argumentasi adlah karangan yang ditulis untuk memberikan alasan atau untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan.
Karangan argumentasi termasuk paling sulit dibandingkan dengan jensi karangan lainnya. Kesulitan yang dimaksud dalam konteks ini adalah karena karangan argumentasi harus didukung dengan alasan dan bukti yang meyakinkan. Contoh yang paling mudah untuk menjelaskan bagaimana bentuk karangan deskripsi adalah makalah paper, esai, skripsi, tesis, disertasi, naskah-naskah tuntutan pengadilan, pertanggungjawaban, pidato kenegaraan, ataupun surat keputusan.
2.        Ciri – ciri Paragraf Argumentasi
Sebagai bentuk paragraf yang harus disertai dengan data, bukti, alasan yang ilmiah, maka ciri argumentasi pun harus memenuhi syarat tersebut. Ciri paragraf argumentasi , yakni :
a.         Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin.
b.        Memerlukan fakta untuk pembuktian, berupa data, gambar/grafik, uji statistik, atau lainnya.
c.         Menggali sumber ide atas dasar pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
d.        Memaparkan penutup dalam bentuk simpulan atau rekomendasi.
3.        Teknik Pengembangan Paragraf Argumentasi
Pengembangan tulisan argumentasi sebenarnya sama dengan pengembangan karangan lainnya, termasuk dalam persyaratan kepaduan, kesatuan dan kelengkapan. Hanya saja, pada tahap pengumpulan dan pengolahan data atau informasi dalam argumentasi memerlukan analisis yang mendalam. Adapun langkah menyusunnya adalah :
1.      Menentukan topik/tema
2.      Menetapkan tujuan
3.      Mengumpulkan data dari berbagai sumber
4.      Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
5.      Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi
Secara umum, setidaknya terdapat enam hal yang harus dijawab untuk meyakinkan pembaca bahwa sebuah paragraf adalah berjenis argumentasi, yakni adanya pernyataan faktual, asumsi, uraian definisi, uraian teoritis, pendekatan dan tujuan (Suparno, 2002: 5.35). artinya, jika terdapat sebuah paragraf yang diduga argumentasi dan kita harus membuktikannya, maka keenam sarana tersebut digunakan untuk menjawabnya atau menghubungkannya.
Dalam teknik pengembangan paragraf argumentasi dikenal teknik induktif dan teknik deduktif (Suparno, 2002:5.38).
a.         Teknik induktif
Pengembangan paragaraf argumentasi dengan teknik induktif adalah penyusunan argumentasi yang dilakukan dengan mengemukakan lebih dahulu bukti-bukti yang berkaitan dengan topik. Dengan bukti-bukti yang dipaparkan di awal tersebut kemudian diambil sebuah kesimpulan yang bersifat umum. Bukti-bukti yang dikemukakan dapat berupa contoh-contoh, fakta-fakta, pengalaman, laporan, data statistik (Suparno, 2002:5.38).
Contoh :
Pada arus mudik tahun 2010, terdata 3010 peristiwa kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Sementara itu, pada arus mudik tahun 2011, tercatat 4006 kasus keelakaan lalu lintas di jalan raya. Dari data tersebut terjadi peningkatan kecelakaan lalu lintas 33, 08%. Dengan demikian, pada tahun 2011, jumlah kecelakaan arus mudik di jalan raya makin bertambah.

b.        Teknik deduktif
Pengembangan paragraf argumentasi dengan teknik dedektif adalah penyusunan argumentasi yang dilakukan dengan mengemukakan lebih dahulu kesimpulan yang umum dan kemudian disusul dengan uraian mengenai hal-hal yang khusus. Alasan-alasan atau bukti-bukti untuk memperkuat diperlukan sebagai sarana meyakinkan pembaca guna mendukung uraian yang disampaikan (Suparno, 2002:5.40).
Contoh :

Pada musim mudik lebaran tahun 2011, jumlah kecelakaan lalu lintas meningkat.sampai H+7 lebaran tercatat terdapat 4006 kasus kecelakaan. Jika dibandingkan tahun 2010, angka kecelakaan ini tergolong besar. Tahun 2010 tercatat 3010 kasus kecelakaan. Jika dilihat dari presentase, terjadi peningkatan 33,08%.

Kualitas Alat Ukur Instrumen

Makalah : Kualitas Alat Ukur Instrumen


BAB I
PENDAHULUAN

Untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar siswa, perlu dilakukan suatu penilaian dengan menggunakan berbagai teknik yang tepat. Penilaian dalam pembelajaran dilakukan tidak hanya untuk menilai hasil belajar siswa melainkan juga menilai proses belajar siswa. Dalam melakukan penilaian pembelajaran, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru, terutama yang berhubungan dengan jenis kompetensi yang akan dinilai, tujuan penilaian yang dilakukan, teknik – teknik penilaian yang digunakan, dan jenis penilaian yang akan digunakan. Dengan demikian kegiatan penilaian yang dilakukan menjadi tepet sasaran, terarah, dan terencana.
Secara teoritis terdapat hubungan timbal balik antara tujuan pembelajaran, proses pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Jika tujuan pembembelajaran yang dirumuskan sudah tepat dan proses pembelajaran yang dilakukan sudah maksimal maka salah satu hal yang perlu kita cermati adalah alat penilaian hasil belajar. Penilaian dapat didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan instrumen tes maupun non-tes. Jadi maksud penilaian adalah memberikan nilai tentang kualitas sesuatu. Pengukuran sendiri diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Dari definisi tersebut dapatlah ditarik  kesimpulan  bahwa pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu pertama penggunaan angka atau skala tertentu, dan kedua menurut suatu aturan atau formula tertentu. Contoh kegiatan pengukuran adalah ketika kita mengukur tinggi atau berat badan seseorang. Kita akan mengetahui berapa tingginya atau beratnya. Atribut atau karakteristik yang kita cari dari contoh pengukuran tersebut yaitu tinggi atau berat, kemudian hasil pengukuran tersebut kita akan memperoleh angka, misalkan tinggi 1,75 meter atau beratnya 70 kilogram.
Pengukuran dalam bidang bidang pendidikan bersifat kompleks. Kita hanya mengukur karakteristik atau atribut tertentu, bukan peserta didik sendiri. Sebagai contoh kita mengukur kemampuan siswa dalam bidang IPA. Kemampuan ini belum tentu menggambarkan keseluruhan kepribadian dari siswa sendiri. Kita hanya mengukur aspek tertentu yang dimiliki oleh siswa. Oleh sebab itu, pengukuran seperti ini tidaklah sederhana, membutuhkan kemampuan penggunaan alat ukur yang handal yang benar-benar mampu mengukur kemampuan siswa.
apakah alat ukur yang anda gunakan ( dalam hal ini tes yang anda susun atau instrumen lain yang anda gunakan ) mempunyai kualitas yang baik sehingga dapat digunakan untuk mengukur tujuan pembelajaran yang telah anda tetapkan ?.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, kita akan diajak untuk mempelajari lebih rinci berbagai cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kualitas alat ukur atau instrumen yang anda gunakan agar benar – benar dapat mengukur apa yang ingin anda ukur. Dalam pembahasan ini akan dibahas mengenai pengujian kualitas alat ukur atau instrumen yang akan membahas tentang validitas dan reliabilitas hasil pengukuran dan tentang bagaimana cara menganalisis butir soal dan bagaimana cara meningkatkan kualitas butir soal berdasarkan hasil analisis serta bagaimana meningkatkan kualitas alat ukur non-tes.








BAB II
KUALITAS ALAT UKUR INSTRUMEN

A.    Validitas dan Reliabilitas Hasil Pengukuran
Untuk mengukur sesuatu kita harus dapat memilih alat ukur yang sesuai agar kita dapat memperoleh hasil pengukuran yang tepat. Sebagai contoh, seorang pemanah akan dinyatakan sebagai pemenang jika hasil bidikannya dapat dengan tepat mengenai sasaran yaitu daerah lingkaran yang paling dalam atau yang paling mendekati lingkaran yang paling dalam. Jika hasil bidikan peserta didik dapat mengenai daerah di lingkaran paling dalam maka ia akan memperoleh skor tertinggi dan perolehan skor tersebut semakin berkurang jika hasil bidikannya jauh dari sasaran. Karena anak panah yang harus dilepaskan tidak hanya satu maka pemanah dituntut untuk tetap dapat melepaskan anak panahnya tepat mengenai sasaran.
Hasil bidikan dari peserta bisa tepat mengenai sasaran atau juga melesat dari sasaran. Hasil yang sama dapat terjadi pada saat anda mengukur hasil belajar siswa. Jika alat ukur yang anda gunakan tidak anda persiapkan dengan cermat maka skor yang anda peroleh tidak dapat menggambarkan dengan tepat tingkat kemampuan siswa. Dari penjelasan tersebut terdapat dua masalah pokok yang harus diperhatikan dalam menyusun alat ukur hasil belajar yang baik yaitu masalah yang berhubungan dengan ketepatan hasil pengukuran dan ketetapan hasil pengukuran. Masalah yang berhubungan dengan ketepatan hasil pengukuran inilah yang dikenal dengan istilah validitas sedangkan maslah – masalah yang berhubungan dengan ketetapan hasil pengukuran dikenal dengan istilah reliabilitas.

1.      Validitas
Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang dapat dengan tepat mengukur apa yang ingin diukur. Jika kita ingin mengukur panjang sebuah meja maka kita harus dapat memilih alat ukur yang tepat untuk mengukur panjang meja tersebut. Untuk menghitung waktu tempuh pelari cepat dalam perlombaan lari cepat 100 meter maka kita juga harus dapat memilih alat ukur yang tepat untuk digunakan. Demikian juga jika kita ingin mengukur hasil belajar siswa maka kita juga dituntut untuk menggunakan alat ukur ( dalam hal ini tes ) yang dapat dengan tepat mengukur hasil belajar yang kita harapkan.
Pengertian validitas mengacu pada ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil pengukuran atau evaluasi ( Gronlund dan Linn, 1990). Secra umum validitas ada tiga jenis :
a.       Validitas isi ( concent validity ).
b.      Validitas konstrak ( construct validity ).
c.       Validitas yang dikaitkan dengan kriteria tertentu ( criterion related validity ).
Validitas isi diperlukan untuk menjawab pertanyaan “ sejauh mana item – item yang ada dalam tes dapat mengukur keseluruhan materi yang telah diajarkan “. Tinggi rendahnya validitas isi dapat ditetapkan berdasarkan analisis rasional atau pertimbangan ahli terhadap isi tes tersebut. Hal ini merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh tes hasil belajar. Tinggi rendahnya validitas isi suatu tes dapat dilihat pada perencanaan atau kisi – kisi tes. Semakin representatif materi yang dapat ditanyakan dalam tes tersebut menunjukkan semakin tinggi validitas isinya.
Validitas konstrak mengacu pada sejauh mana alat ukur tersebut dapat mengungkap keseluruhan konstrak yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan tes tersebut. Yang dimaksud dengan konstrak disini adalah konsep hipotesis (hipotetical concept) yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan alat ukur. Validitas konstrak ini banyak digunakan terutama dalam pengukuran – pengukuran psikologi seperti pengukuran sikap, minat, tingkah laku dan sebagainya. Campbell dan Fiske (Demari Mardapi, 2004) mengembangkan satu pendekatan untuk menentukan validitas konstrak dengan menggunakan teknik multi trait-multi method. Validasi dengan multi trait – multi method dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu metode untuk mengukur lebih dari satu acam trait ( sifat ). Dengan menggunakan matrik korelasi sehingga interkorelasi antara trait dan metode dapat dilihat dengan jelas.
Jika suatu tes dimaksudkan untuk memprediksi keberhasilan seseorang di masa yang akan datang atau dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian anatar pengetahuan dengan keterampilan yang dimiliki maka alat ukur yang digunakan harus mempunyai criterion related validity yang tinggi.
2.      Reliabilitas
Hasil – hasil pengukuran yang berhubungan dengan aspek – aspek fisik seperti mengukur panjang meja, tinggi almari, berat badan dan tinggi badan biasanya menghasilkan reliabilitas yang sangat tinggi. Artinya walaupun pengukuran dilakukan lebih dari sekali tetapi tetap memberikan hasil yang ridak jauh berbeda. Hasil pengukuran yenag berbeda akan sering kita temukan jika kita melakukan pengukuran terhadap hal – hal yang berhubungan dengan aspek – aspek psikologi dan sosial seperti dalam pengukuran mewakili intelegensi, sikap, dan konsep diri. Aspek – aspek sosial-psikologi seperti itu tidak dapat diukur dengan ketepatan dan konsistensi yang tinggi. Hal ini disebabkan karena hasil pengukuran yang diperoleh tidak dapat lepas dari pengaruh hal - hal diluar maksud pengukuran tersebut misalnya alat ukur itu sendiri bukan merupakan alat ukur yang tepat untuk mengukur aspek yang diinginkan. Disamping itu karena subjek pengukurannya adalah manusia maka cara – cara penyajian tes, emosi, motivasi. Kondisi fisik dan keadaan ruangan tes akan mempengaruhi hasil pengukuran walaupun sebenarnya aspek – aspek yang ingin kita ukur tersebut tidak berubah. Dengan demikian hasil pengukuran yang diperoleh menjadi kurang reliabel.
Pengertian reliabilitas mengacu pada ketetapan hasil yang diperoleh dari suatu Pengukuran ( Grondlund dan Linn, 1990 ). Salah satu cara untuk mengetahui ketetapan atau reliabilitas suatu pengukuran, dapat diperoleh dengan cara melakukan pengukuran dua kali. Hasil pengukuran dikatakan mempunyai reliabilitas yang tinggi jika hasil pengukuran pertama hampir sama dengan hasil pengukuran kedua. Dan sebaliknya hasil pengukuran dikatakan mempunyai reliabilitas yang rendah jika hasil pengukuran pertama jauh berbeda dengan hasil pengukuran kedua. Hubungan antar skor yang diperoleh pada pengukuran pertama dengan kedua akan menghasilkan angka korelasi bergerak antara -1 sampai dengan +1. Semakin tinggi angka koefisien reliabilitas (mendekati 1) maka semakin tinggi reliabilitas tersebut. Suatu perangkat tes dinyatakan cukup reliabel jika mempunyai reliabilitas lebih besar 0,5 (Fernandes, 1984).
Konsep reliabilitas dalam arti equivalent tes dimaksudkan untuk mengetahui apakah dua set tes yang digunakan paralel atau tidak. Keparalelan dua set tes ini diperoleh dengan cara mengembangkan dua set tes yang paralel dari kisi - kisi tes yang sama kemudian masing - masing tes tersebut diujikan pada dua kelas yang mempunyai tingkat kemampuan yang sama. Hasil kedua tes tersebut dikorelasikan, jika hasil korelasinya tinggi, hal ini menunjukan kedua tes paralel. koefisien korelasinya dapat dihitung dengan menggunakan formula product-moment.
konsep reliabilitas dalam arti konsistensi internal dimaksudkan untuk mengetahui apakah kumpulan butir soal yang ada dalam satu set tes tersebut mengukur dimensi hasil belajar yang sama atau tidak. Konsep reliabilitas dalam asrti konsistensi dapat dihitung menggunakan formula Kuder-Richardson (KR-20 atau KR-21). Jika hasil korelasinya tinggi, hal ni menunjukan bahwa antara butir soal dalam satu set tes tersebut adalah konsisten dengan yang lain.

3.      Hubungan antara validitas dan reliabilitas
Ketepatan hasil pengukuran ( validitas ) sangat diperlukan untuk memperoleh alat ukur yang dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat ( valid ). Walaupun demikian alat ukur yang mempunyai reliabilitas tinggi belum tentu secara otomatis mempunyai validitas yang tinggi. Karena tingginya reliabilitas  yang dihasilkan oleh suatu alat ukur jika tidak dibarengi dengan tingginya validitas dapat memberikan informasi yang salah tentang apa yang ingin kita ukur.
Reliabilitas suatu tes dapat ditingkatkan dengan menambah jumlah butir kedalam tes tersebut. Penambahan butir soal pada tes akan meningkatkan reliabilitas jika butir soal yang ditambahkan adalah butir soal yang homogen dengan butir soal – soal yang ada.



B.     Analisis dan Perbaikan Instrumen
Menurut Nitko (1983), analisis butir soal menggambarkan suatu proses pengambilan data dan penggunaan informasi tentang tiap - tiap butir soal terutama tentang respon siswa terhadap setiap butir soal. Lebih Lnjut dikatakan bahwa arti penting penggunaan analisis butir soal adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apakah butir soal – butir soal yang disusun sudah berfungsi sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh penyusun soal. Untuk menentukan apakah soal – soal yang kita susun telah berfungsi sebagaimana seharusnya maka kita harus memperhatikan hal – hal sebagai berikut :
a.       Apakah soal – soal yang disusun sudah sesuai untuk mengukur perubahan tingkah laku seperti telah dirumuskan dalam tujuan instruksional khusus ?
b.      Apakah tingkat kesukaran sudah kita perhatikan ?
c.       Apakah soal tersebut sudah mampu membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai ?
d.      Apakah kunci soal yang kita buat sudah benar sesuai dengan maksud soa ?
e.       Jika menggunakan tes pilihan berganda, apakah pengecoh yang kita pilih sudah berfungsi dengan baik ?
f.       Apakah soal tersebut dapat ditafsirkan ganda atau tidak ?
2.      Sebagai umpan balik bagi siswa untuk mengetahui kemampuan mereka dalam menguasai suatu materi.
3.      Sebagai umpan balik bagi guru untuk mengetahui kesulitan – kesulitan yang dialami siswa dalam memahami suatu materi.
4.      Sebagai acuan untuk merevisi soal.
5.      Untuk memperbaiki kemapuan kita dalam menulis soal.
Pada saat kita engujikan suatu set soal untuk mengambil keputusan penting tentang hasil belajar siswa maka idealnya kita harus yakin bahwa set soal tersebut adalah valid dan reliabel. Validitas set soal dapat diketahui dari kisi – kisi soal sedangkan reliabelitas soala baru dapat diketahui setelah uji coba. Dalam rangka memperoleh reliabilitas set soal inilah analisis butir soal dilakukan. Dalam menganalisis butir soal paling tidak ada dua karakteristik butir soal yang perlu diperhatikan yaitu tingkat kesukaran dan daya beda butir – butir soal.
a)      Tingkat kesukaran butir soal
Besarnya tingkat kesukaran butir soal, dapat dihitung dengan memperhatikan proporsi peserta tes yang menjawab benar terhadap setiap butir soal. Secara matematis tingkat kesukaran butir soal dapat dihitung dengan rumus :
P =
Keterangan :
P adalah indeks kesukaran butir soal
B adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar
N adalah jumlah peserta tes
Menurut Fernandes (1984), kategori kesukaran butir soal adalah sebagai berikut :
P > 0,75 : mudah
0,25 ≤ P ≤ 0,75 : sedang
P < 0,24 : sukar
Butir soal yang baik adalah butir soal yang memiliki tingkat kesukaran dalam kategori sedang.
b)     Daya beda
Daya beda butir soal memiliki pengertian seberapa jauh butir soal tersebut dapat membedakan kemampuan individu peserta tes. Daya beda butir soal dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
D=PA – PB
dimana,
D = indeks daya beda butir soal
PA = proporsi kelompok atas yang menjawab benar
PB = proporsi kelompok bawah yang menjawab salah

Secara teoritis indeks beda soal (D) = 1 akan tercapai apabila semua siswa dalam kelompok atas menjawab benar dan semua siswa dalam kelompok bawah menjawab salah. Indeks daya beda soal (D) = -1 jika semua sisa dalam kelompok atas menjawab salah dan semua siswa dalam kelopok bawah justru menjawab benar. Sedangkan indeks daya beda soal (D) = 0 apabila proporsi siswa yang menjawab benar dalam kelompok atas dan kelompok bawah adalah sama. Menurut Fernandes (1984) kategori indeks daya beda butir soal adalah :
D ≥ 0,40 = sangat baik
0,30 ≤ D ≤ 0,40 = baik
0,20 ≤ D < 0,30 = sedang
D < 0,20 = tidak baik
Butir soal yang perlu diperbaiki adalah butir soal yang terlalu sukar atau terlalu mudah dan butir soal yang pengecohnya mempunyai daya beda positif atau kuncinya mempunyai daya beda negatif. Perbaikan butir soal dapat dilakukan pada pokok soal atau pada alternatif jawaban.
 Menganalisis Tes Uraian
Cara menganalisis tes uraian menurut Whitney dan Sabers (Mehrens dan Lehmann, 1984) adalah : (1) tentukan jumlah siswa yang termasuk kelompok atas (25%) dan kelompok bawah (25%), (2) hitung jumlah skor kelompok atas dan jumlah skor kelompok bawah, dan (3) hitung tingkat kesukaran dan daya beda setiap butir soal dengan rumus berikut :
 
Dimana,
SA          :  jumlah skor kelompok atas
SB          :  jumlah skor kelompok bawah
N            :  25% peserta didik
Skor maks :  skor maksimal tiap buti tes
Skor min   :   skor minimal tiap butir tes
Memperbaiki Butir Soal
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memperbaiki butir soal antara lain : a) perhatikan tingkat kesukaran soal. Butir soal dianggap baik jika mempunyai tingkat kesukaran (P) antara 0,25 sampai dengan 0,75 atau mendekati angka tersebut, b) perhatikan daya beda butir soal. Butir soal dianggap baik jika kunci atau jawabannya dianggap benar mempunyai beda positif tinggi dan pengecohnya mempunyai daya beda negatif.

Memperbaiki Non-Tes
Prosedur memperbaiki instrument non-tes sama dengan prosedur memperbaiki tes. Penyempurnaan butir yang lemah dapat dilaksanakan dengan memperbaiki butir yang kurang baik atau mengganti butir yang lama dengan butir yang baru. Penyebab butir soal kurang baik, antara lain: a) penggunaan bahasa kurang komunikatif, b) kalimat dapat ditafsirkan ambiguous (dapat ditafsirkan ganda), c) pertanyaan / pernyataan yang dibuat menyimpang dari indikator, dan d) pertanyaan / pernyataan tidak mengukur tarif (sifat) yang akan diukur.















BAB III
PENUTUP

Program pengajaran adalah suatu rencana pelaksanaan proses belajar mengajar yang didasarkan atas pertimbangan tujuan yang ingin dicapai, bahan, metode, alat, alokasi waktu dan evaluasi agar siswa menguasai proses belajar dan hasil belajar yang optimal. Kegiatan belajar mengajar adalah interaksi timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan bahan belajarnya. Dan keberhasilan kegiatan belajar mengajar dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas interaksi yang terjadi pada kegiatan tersebut.

Analisi item merupakan suatu proses pengambilan dan penggunaan informasi tentang tiap – tiap butir terutama informasi tentang respons siswa terhadap setiap butir soal. Informasi dari hasil analisis item sangat bermanfaat bagi guru dan siswa. Bagi guru, hasil analisis item dapat memeberi informasi kepada guru tentang kualitas butir soal itu sendiri dan untuk mengetahui materi yang sudah atau belum dikuasai oleh siswa. Bagi siswa sendiri hasil analisis item dapat menunjukan sampai sejauh mana tingkat penguasaan materi yang telah dicapai. Analisis item dilakukan pada tes pilihan berganda dan dapat pula dilakukan pada tes uraian khususnya uraian terbatas. Dua karakteristik butir soal yang perlu diketahui dalam analisis butir soal adalah tingkat kesukaran (P) dan daya beda (D). Butir soal yang baik adalah butir soal yang mempunyai tingkat kesukaran sedang dengan daya beda positif. Butir soal yang perlu diperbaiki adalah butir soal yang terlalu sukar atau terlalu mudah dan butir soal yang pengecohnya mempunyai daya beda positif atau kuncinya mempunyai daya beda negatif. Perbaikan butir soal dapat dilakukan pada pokok soal atau pada alternatif jawaban.