Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, 25 October 2015

Arah jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi kurang sepuluh menit. Lekas – lekas aku beberes untuk segera berangkat kuliah. Yah meski sadar betul aku sudah telat hampir sejam’an,tapi tak apalah daripada tidak berangkat, masih mending masuk walau datang terlambat. Kata peribahasa dihalaman sekian :-D maklum semalam habis ada acara di rumah, paginya banyak aktifitas dan barang – barang yang harus kutata, en memastikan beberapa pekerjaan yang sudah ku sentuh rapi.
Alhasil, jurus langkah seribu segera ku pamerkan di sepanjang jalan pantura km tujuh belas Suradadi. Tak peduli sorotan mentari  yang mulai smakin memanas. Deru suara klakson mobil, truk, bus kontainer hingga jeritan motor seakan menjadi melodi penghibur,nada gratis bagi telinga ini. Beginilah kalau soulmate tidak masuk, gak ada yang ngajakin buat berangkat bareng alias tak ada tebengan ya mesti berangkat sendirian, itung – itung melatih kekuatan otot kaki en menerapkan prinsip hidup sehat menjadi alibi semu yang mengharuskan ku berjalan kaki. Pernah juga pakai sepeda, tapi gak enak ati aja rasanya. Ketika barisan mesin beroda dua tertata rapi di tempat parkir, seperti hendak mengikuti upacara, eh... si ontel ku nd’esep mojok di barisan paling ujung seakan ia mengerti, bahwa hanya ia yang berwujud beda sendiri. *hehehe
“Assalamualaikum...” salam, senyum, sapa en santun ku lambaikan pada semua insan di seluruh ruangan. Tapi mereka tak ada yang membalas kasih tepuk tangan, apalagi setangkai mawar dan sorak – sorak bergembira. Tidak. Karena aku bukan artis yang sedang naik tangkai memanjat panggung :-D kemudian diteriaki histeris oleh para – para mereka, penggila dan pemuja sesama yang bernama fans setia.
Segera aku mencari tempat duduk dan mengeluarkan peralatan belajar. Papan putih di depan kami sudah penuh dengan angka – angka, daftar tabel, dan rumus - rumus statistika.
Aih,,, alamat telat paham ini. Otak ku berlari agak cepat untuk segera meloncat ambil posisi dan mengikuti materi selanjutnya.
“bagaimana, sudah ? kalau sudah kita lanjut ke materi berikutnya. Yaitu mencarai nilai kuatril, desil dan presentil. Ada pertanyaan ?”
Hmmm... belum juga lima menit duduk dan kusalin materi dalam buku, sambil memahami satu persatu bilangan yang tertera. 22,5 dari mana yah... asalnya, lahirnya atau ada ibu bapaknya mungkin. Tiba – tiba saja hendak pindah ke materi berikutnya.
“mba, itu 22,5 dapat dari mana mba?” tanyaku mencari jawaban atas ketidakpahaman.
“nggak tau. Aku juga bingung... belum mudeng.”teman duduk ku menjawab. Kalau yang datang dari tadi tidak telat saja, belum begitu paham dengan materi yang baru saja dijelaskan. Bagaimana dengan yang tadi barusan datang. Geli sendiri aku, konyol. Padahal pelajaran yang seperti ini membutuhkan kefokusan, teliti dan waktu untuk bisa memahaminya. Harusnya aku tidak terlambat.
“maaf, bu. Itu  22,5 hasil dari mana ?” tanya ku pada sang Tutor.
“loh, yang mana? Ini titik tengah mba. Di dapat dari kelas interval pertama, dua puluh ditambah dua puluh lima dibagi dua. Hasilnya 22,5, ini titik tengahnya. Kelas berikutnya juga sama ditambahkan kemudian dibagi dua.
“huhhhhh.. gimana sih. Itu ditambah terus dibagi...” celoteh teman biang suara usil di kelas, yang akhirnya disusul sedikit suara ricuh yang lain.
Nyengir sendiri  aku. Sebel sedikit sih. Lagian, ngeliatin mimik teman yang lain ditanya soal materi seperti masih bingung, giliran aku minta penjelasan ulang, ehhh...
“tadi bingung, bu. Soalnya tadi nanya sama teman katanya dia juga masih bingung.”
“nah iya. Yang dari tadi datang, mengikuti dari awal juga masih bingung. Memang butuh konsentrasi dan waktu dalam mempelajari ini. Anda datang malah seenaknya.”

Ahmm... tinggal dijelasin aja kali bu, kenapa bilang “datang seenaknya” bener – an gak enak didengernya. Yang lain sudah tahu kok aku datang  telat.. .sorry L kayanya si Ibu ini “meniteni” aku yang selalu hadir terlambat di pelajarannya. Pengenya sih berangkat tepat waktu, tapi ya itu tadi... giliran datang tepat di jam pas masuk, eh gantian malah masuknya yang mulur...

Saturday, 14 February 2015

*Asin 
Namanya Imah, Imah pelupi. karena ia pelupa. Dia bisa lupa lebih dari 17 kali sehari, dari hal sepele sampai yang gede. Beberapa jam yang lalu Imah salah pulang, ia masuk kontrakan tetangganya yang bercat sama dengan kontrakan yang ditempatinya. Ijo. Warna hati Imah yang selalu sabar dengan sifat pelupanya. Dia juga lupa, hendak membeli sayuran tapi perginya ke toko material. Alhamdulillah, Imah tak pernah lupa dengan wajah suaminya, Mas Gun. 
Hari ini Imah ingin memasak menu makan siang ala Prancis, Prapatan Cimanggis kesukaan suaminya. Sayur bayam, sambal terasi, mujaer goreng dan rambak. Malangnya, Imah lupa lagi. Ia hanya membeli bayam dan rambak. 
“ Sayur bayam rasa air laut”. Komentar singkat Mas Gun. 
“Mas kan sudah bilang beli lauk matangnya saja, jangan masak sendiri”. 
Dengan sepiring nasi dan dua bungkus rambak ia berlalu ke ruang tengah menyalakan radio. Imah tertegun mencicipi masakannya yang asin ga ketulungan. Dia terlalu banyak menambahkan garam sampai empat sendok makan lebih, dan itu karena lupa. lagi lagi lupa seperti masakan di hari-hari sebelumnya. Imah sangat sedih dan kecewa terhadap bayangannya di cermin. Bergegas ia ke pekarangan belakang rumah sebelum mendekati suaminya. 
 “Itu sayur sudah asin, kenapa kau bawakan lagi garam?” Mas Gun heran melihatnya membawa semangkok bayam, garam dan air panas. Imah masih tertunduk, antara malu, bersalah dan kecewa. Padahal dia ingin sekali memanjakan lidah suaminya. 
Air panas buat nambahin kuah, garamnya buat nambahin kalau nanti kurang asin. Kalau mas ga mau.... ini waribang”. Imah tertunduk lesu seraya menyodorkan setangkai sepatu. 
 “Ma’afin kelalaian Imah. Imah akan berusaha tidak lupa agar masakannya ga keasinan lagi. Imah pengin Mas Gundul makan masakannya Imah.” Kata Imah polos, membuat ia terlihat makin anggun didepan suaminya. 
Mas Gun tersenyum, hatinya luluh dengan maksud perhatian Imah. 
“ Iya, mas ma’afin. Makasih untuk bunganya. Tapi mas maunya Imah suapin ”.
Imah  bahagia akhirnya mas Gun mau memakan sayur bayamnya. Tiada henti ia berdo'a agar senantiasa dapat melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri, melayani suaminya dengan baik dan penuh kasih sayang. sebagaimana mas Gun yang telah sabar menyayangi dan menerima kekurangannya. 

Friday, 9 January 2015

*Cerita Sore ning Swalayan



*Cerita Sore ning Swalayan
Sore wingi....
Aku karo sepupuku jalan-jalan, belanja ning Kita Bersama Swalayan Bulakamba. Sore kuwe swalayan lagi semadan sepi dadi bisa nglirak-nglirik ndeleng wong sing pada milih belanjanan.
Pas aku lagi ngantri ning kasiran. Aku ndelengna bocah cilik karo mamane lagi belanja bareng. Sengaja ora sengaja tak perhatikena.
“ma, aku pengen nginung.” jare bocah cilik, sing mau wis ngadeg ngarepe lemari pendingin, mamane lagi milih-milih bedak ning tempat kosmetikan.
“ya wis jukut nginungan sing teh, tong. Teh gelas bae.. “. jare mamane sibuk milih bedak maning. Bocahe seneng, buka lemari golet inungan teh.
“teh gelase laka, ma”. bocahe nyeru.
“ari laka ya teh botol”. jawab mamane
Bocahe mbuka lemari maning, goleti teh botol.
“teh botol laka, maa..”.
“teh Rio ya kena..”.
“anane teh Sisri ma”. anake njerit karo nuding yu Sisri, jebule ketemu tanggane sing lagi belanja ning swalayan keding.
“lah kiye bocah, ya teh pucuk, goleti bokat ana”. mamane smadan stitik sewot.
“ma, teh pucuk ya laka...Maa,“. Bocahe matane wis smadan abang, kayong wis ngelak pengen nginung nemen asline.
“laka teh pucuk, teh bongkot ya kena....” mamane nyewot karo nyengir. “ Pan nginung teh ben angel temen..”. (bongkot = bonggol=batang pohon). Jebule kweh bocah asline pengene milih  concerto. :-D
Aku sing mau ndelengna bae melu cengar cengir. Ning jero ati ngguyu kegugu.
Jare tukang kasire.. “ mba,.. mba... kenang apa ganing gemuyu dewek?”.
Aku dijiwit sepupune. “ hh...h...he he he bha...haha..., ora papa kok mba, lagi seneng bae”. Karo nyengir mbayangna seumpamane  adegan mau aku karo anake aku.. ‘hsttt... durung nikah wis mbayangna due anak. Jero ati melu seneng ndelengna wong tua karo anak brayan. 

Wednesday, 3 September 2014

Diary

Pagi yang damai, mungkin begitulah suasana pagi ini.Segala aktivitas rumah dari memasak, menyiapkan sarapan, mencuci piring, menyapu dan membersihkan rumah telah selesai ku kerjakan. Perlahan namun pasti, ku kayun langkah ini menuju serambi rumah, duduk di kursi penjalin, menghirup udara segar, menatap lalu lalang  aktivits di jalanan, memandangi setiap wajah yang lewat depan rumah. Oh, tidak. Aku tidak memandangi mereka.Aku lebih fokus ke pikiran, yah pikiran dan perasaan ku yang tengah terguncang. Aku coba tuk tetap tenang, diam melantunkan bait – bait do’a dalam kekhawatiran. Ku lantunkan ayat - ayat cinta dalam tatapan dan pikiran serta perasaan yang entah mengambang kemana.Ya Rabb... rasanya aku hanya ingin bermunajat cinta padaMu, cinta dan rindu ini ingin rasanya kusandarkan semua hanya untuk dan kepadaMu.
Aku terpuruk.Aku tengah diuji. Saat cinta kami yang telah hampir setahun kami bangun, kami jalani, dengan penuh keikhlasan hati satu sama lain. Tentang bagaimana kami beradaptasi memahami sifat dan perasaan kami satu sama lain. Saat moment pertunangan itu menyatukan ikatan cinta meski aku tahu kami belum sepenuhnya bisa saling memiliki.Manusia hanya bisa berencana, namun semua kembali kepada kekuasaan Allah.Alhamdulillah, Kami bahagia.melewati hari demi hari dengan kekuatan cinta dan kasih sayang yang kami miliki. Hingga tanpa terduga kabar itu benar – benar membuatku shock.
Lagi – lagi aku mengeluh. Aku wanita, wajarkan bila perasaan ini begitu tersayat mendengar kabar orang yang dicintai telah menodai wanita lain. Hati wanita mana yang tak pilu ?.duh gusti, lagi – lagi aku mengeluh. Meski aku yakin dan paham betul siapa dia, bahkan dia merasa tak pernah menyentuh wanita lain itu.Sebagai seorang wanita aku merasa takut. Aku takut apa yang aku takutkan terjadi, aku takut dia meninggalkan ku dan pergi dengan wanita lain itu. Bukankah Allah telah menetapkan siapa jodoh kita, Allah takan pernah menguji suatu hamba melebihi batas kemampuan hambanya, melainkan karna yakin ia sanggup melewatunya. Ya rabb... aku pasrah dengan ujian hidup ini.
“ Ray..., masih pagi jangan melamun. Tidak baik “.Suara ibu mengagetkan ku.Ku seka air mata yang tak keluar.Entah sejak kapan aku terbiasa menangis seorang diri.Bahkan hanya airmata yang mampu ku tuangkan mewakili segala gejolak permasalahn hidup yang ku jalani.Entah berapa liter air mata yang terkumpul dari tangisan ku setiap malam, merenungi segala sesuatu yang tengah ku hadapi. “Ray, Allah tengah mempersiapkan sesuatu yang begitu sangat indah untuk mu, nak. Allah sangat sayang kepadamu, bersabarlah. Jika dia jodoh mu, yakinlah Allah akan kembali menyatukan cinta kalian“. perkataan ibu terdengar begitu dalam. Hati ku teriris.Aku menangis.Bukan hanya karena ujian yang tengah menimpa ku, tapi lebih karena airmata ibu yang tampak menggenangi bola matanya yang sudah terlihat sangat senja.Ma’afkan aku ibu, membuatmu sedih, dan ujian yang tengah ku hadapi menambah beban hidupmu. Aku tak bisa  menyembunyikan raut sedih dan rasa kecewaku. Kecewa terhadap diri, yang telah membuat ibu menangis miris karena aku.
“ Ti, tak tega hatiku melihat ibu setiap malam menangisi aku. Aku bisa saja menguatkan hatiku menerima kenyataan ini.Aku yakin Allah telah merencanakan sesuatu yang indah untuk ku.Namun entah sampai kapan aku bisa bertahan mencoba untuk kuat.Setiap kali melihat ibu menangis, batinku terasa terguncang, Ti.”Curhatku kepada Surti.Ia mendadak pulang ke kampung begitu mendengar kabar tentang permasalah yang tengah menimpa kami, aku dan Doni.
“ Ray, kuatkan hatimu sahabatku. Aku mengenal Doni dan kamu dari sejak kita masih kecil.Aku paham betul bagaimana perasaan mu saat ini. Aku bahkan sama sekali tak percaya dengan berita ini. Sabarkan hati mu, Ray “.Kata Surti ikut menangisi aku.Andai ada banyak orang disekeliling ku yang aku punya.Jika bukan hanya aku anak ibu, jika ada saudara yang aku punya.Mungkin ada banyak orang yang bisa memberi penguat bagi ibu juga bagi ku.Terlintas bayang sosok ayah yang tak pernah hadir dalam hidupku semakin membuatku pilu. Dari sejak aku dilahirkan, Ayah tlah tenang dialam sana. Terlebih melihat sekelilingku, aku bukan orang yang mampu.Sikap saudara – saudara ibu yang menjauh dengan kami membuat dilematis perasaan hatiku smakin mengebu.Hidup bersaudara tapi seperti tak punya saudara.Belum lagi bagaimana kabar itu membuat desas desus tetangga ku yang justru membuat hati ibu dan bahkan aku semakin pilu.Semakin menambah dilema dalam hatiku.Batinku tertekan. Adakah tempat dimana aku bisa menyandarkan hatiku untuk menangis ?adakah tempat dimana aku bisa menuangkan air mata ini ? dimana tempat aku mengadu tentang segala keluh kesah ini ? jika dulu ada Doni bersamaku, yang selalu sabar dan teguh menemaniku bahkan disaat aku terpuruk, dia yang selalu ada menguatkan ku. Tapi kini justru dialah yang kini membuat ku meneteskan air mata, mengingatnya serasa menambah luka.Duh gusti, kembali aku mengeluh. Ku sandarkan semua  kepada mu. Semua cobaan hidup ku pendam seorang sendiri. Hanya mampu ku curahkan dalam hati, ku adukan padaMu. Hatiku menjerit.
Disaat Aku tengah dilanda bingung, bagaimana kedepannya nanti, tentang kerjaan ku.Sebentar lagi habis masa kontrak ku.Selama hampir enam tahun pula aku bekerja di sebuah industri rumahan yang terletak di seberang desa ku. Aku belum bisa memberikan apa – apa kepada ibu. Gaji ku hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari – hari. Terlebih lagi aku harus memikirkan kebutuhan hidup yang harus ku penuhi untuk menapaki jenjang pernikahan. Yang kini aku pasrahkan kepada sang pemberi cinta yang hakiki. Sebenarnya aku ingin pergi merantau, pergi ke ibukota dan mengadu nasib disana. Mengadu nasib tentang anak desa yang tak punya bekal ijasah. “ mau kerja apa kamu jauh – jauh ke Jakarta, bila hanya jadi seorang pembantu “ begitulah kata adik mama mencibir “. ibu sudah tua, tidak punya siapa – siapa selain kamu. Hanya kamu sandaran hidup ibu di dunia yang kini ibu miliki . Keputusan ada ditangan mu ” itulah kata pasrah ibu, ketika aku tengah menimbang – nimbang keinginanku untuk merantau di ibu kota, ketika Sarti, teman semasa SD ku mengajak ku ikut dengannya. Dengan pertimbangan orang tua, aku memilih kerja serabutan di rumah, disamping bekerja aku bisa selalu ada disamping ibu. Benarkah aku selalu ada disamping ibu, bahkan disaat –saat linangan airmata ibu jatuh dalam munajat cintanya kepada sang khalik, saat tengah malam itu. Aku hanya bisa mengamini do’a ibu dengan harapan semoga Allah mengijabahi do’a ibu. Ujian itu sungguh membuat aku malu pada keluarga ku, terutama ibu. Lagi – lagi batinku menangis.
Dan waktu kini berlalu mengikuti arus skenario takdir hidup ku. Pelan – pelan ku ikhlaskan segala sesuatu yang telah terjadi. Hingga disuatu hari, banyak orang ramai dirumah ku, beberapa orang tengah menata kursi, memasang panggung dekorasi pernikahan, suara berisik orang – orang di dapur yang tengah mempersiapkan acara pernikahan kami. Subhanallah, aku menitikan air mata, ungkapan bahagia yang tiada tara yang tak bisa ku ungkapkan lewat bait – bait kata. Aku akan menikah. Dengan siapa ?dengan dia kah yang kau ceritakan diawal tadi ? yah.. kita melewati ujian itu, saat dimana berita itu hanya sebuah fitnah. “ aku mencintai mu, Don. Tolong nikahi aku... lupakah engkau dimalam itu. Ini hasil buah cinta kita “ rengek seorang wanita lain itu, yang entah bahkan aku tak ingin menyebut namanya. ucapan itu sungguh menyayat hati dan kepercayaan ku. Saat itu aku tak bisa membayangkan bagaimana dengan reaksi keluarga kami menerima berita yang mungkin aib ini. Aku tak sanggup berkata apa – apa hanya bisa menguatkan hati ku dan mensuport Doni dan keluarga kami. Dalam hati aku tetap menanam keyakinan bahwa Doni tidak bersalah.Ternyata benar, ujian dalam hidup selalu datang silih berganti, namun janji Allah pasti. Yakinlah, bahwa jodoh kita tak akan tertukar dengan orang lain, maka bersabarlah dalam penantiannya. rizki kita takan diambil orang lain, maka tenangkan lah hati kita. Dan ibadah kita tak mungkin dikerjakan orang lain, maka sibukkanlah diri kita dalam beribadah. Ku Pasrahkan semua tentang hidupku kepadaNya. Hanya Sabar menerima kenyataan yang ada. Hingga tiba hari dimana, sebuah keajaiban datang. Allah menjawab do’a kami, menjawab munajat do’a cinta ibu yang tertuang untuk ku. Doni datang membawa suatu penjelasan tentang kisah yang sebenarnya bersama wanita itu yang kini hadir didepan ku. Ia bersimpuh, memohon ma’af atas kesalahan yang pernah ia lakukan untuk memisahkan kami. Seketika itu pula aku teringat do’a  tulus mu ibu yang kini telah mengembalikan cinta sejati ku ke dunia ku lagi. Terimakasih ibu, aku mencintai mu. Engkau benar, Ketulusan do’a seorang wanita juga penyandaran segala permasalahan hidup kepada sang pemberi kehidupan, Allah lah sebaik – baik penolong dan pelindung.
Tiba – tiba Dion, anakku memeluk ku, menyadarkan aku dari kisah 6 tahun yang lalu, “ mama ayo kita pulang.” Ku tatap wajah suamiku, tersenyum ikut memeluk menguatkanku.“ aku kangen ibu, mas”. Suaraku lirih.Doni mencium keningku. Ku usap airmata yang jatuh membasahi pipi, menaburkan bunga dipusaran pahlawan hidupku, ibu. Aku merindukanmu.

Diaryku..



Pagi yang damai, mungkin begitulah suasana pagi ini.Segala aktivitas rumah dari memasak, menyiapkan sarapan, mencuci piring, menyapu dan membersihkan rumah telah selesai ku kerjakan. Perlahan namun pasti, ku kayun langkah ini menuju serambi rumah, duduk di kursi penjalin, menghirup udara segar, menatap lalu lalang  aktivits di jalanan, memandangi setiap wajah yang lewat depan rumah. Oh, tidak. Aku tidak memandangi mereka.Aku lebih fokus ke pikiran, yah pikiran dan perasaan ku yang tengah terguncang. Aku coba tuk tetap tenang, diam melantunkan bait – bait do’a dalam kekhawatiran. Ku lantunkan ayat - ayat cinta dalam tatapan dan pikiran serta perasaan yang entah mengambang kemana.Ya Rabb... rasanya aku hanya ingin bermunajat cinta padaMu, cinta dan rindu ini ingin rasanya kusandarkan semua hanya untuk dan kepadaMu.
Aku terpuruk.Aku tengah diuji. Saat cinta kami yang telah hampir setahun kami bangun, kami jalani, dengan penuh keikhlasan hati satu sama lain. Tentang bagaimana kami beradaptasi memahami sifat dan perasaan kami satu sama lain. Saat moment pertunangan itu menyatukan ikatan cinta meski aku tahu kami belum sepenuhnya bisa saling memiliki.Manusia hanya bisa berencana, namun semua kembali kepada kekuasaan Allah.Alhamdulillah, Kami bahagia.melewati hari demi hari dengan kekuatan cinta dan kasih sayang yang kami miliki. Hingga tanpa terduga kabar itu benar – benar membuatku shock.
Lagi – lagi aku mengeluh. Aku wanita, wajarkan bila perasaan ini begitu tersayat mendengar kabar orang yang dicintai telah menodai wanita lain. Hati wanita mana yang tak pilu ?.duh gusti, lagi – lagi aku mengeluh. Meski aku yakin dan paham betul siapa dia, bahkan dia merasa tak pernah menyentuh wanita lain itu.Sebagai seorang wanita aku merasa takut. Aku takut apa yang aku takutkan terjadi, aku takut dia meninggalkan ku dan pergi dengan wanita lain itu. Bukankah Allah telah menetapkan siapa jodoh kita, Allah takan pernah menguji suatu hamba melebihi batas kemampuan hambanya, melainkan karna yakin ia sanggup melewatunya. Ya rabb... aku pasrah dengan ujian hidup ini.
“ Ray..., masih pagi jangan melamun. Tidak baik “.Suara ibu mengagetkan ku.Ku seka air mata yang tak keluar.Entah sejak kapan aku terbiasa menangis seorang diri.Bahkan hanya airmata yang mampu ku tuangkan mewakili segala gejolak permasalahn hidup yang ku jalani.Entah berapa liter air mata yang terkumpul dari tangisan ku setiap malam, merenungi segala sesuatu yang tengah ku hadapi. “Ray, Allah tengah mempersiapkan sesuatu yang begitu sangat indah untuk mu, nak. Allah sangat sayang kepadamu, bersabarlah. Jika dia jodoh mu, yakinlah Allah akan kembali menyatukan cinta kalian“. perkataan ibu terdengar begitu dalam. Hati ku teriris.Aku menangis.Bukan hanya karena ujian yang tengah menimpa ku, tapi lebih karena airmata ibu yang tampak menggenangi bola matanya yang sudah terlihat sangat senja.Ma’afkan aku ibu, membuatmu sedih, dan ujian yang tengah ku hadapi menambah beban hidupmu. Aku tak bisa  menyembunyikan raut sedih dan rasa kecewaku. Kecewa terhadap diri, yang telah membuat ibu menangis miris karena aku.
“ Ti, tak tega hatiku melihat ibu setiap malam menangisi aku. Aku bisa saja menguatkan hatiku menerima kenyataan ini.Aku yakin Allah telah merencanakan sesuatu yang indah untuk ku.Namun entah sampai kapan aku bisa bertahan mencoba untuk kuat.Setiap kali melihat ibu menangis, batinku terasa terguncang, Ti.”Curhatku kepada Surti.Ia mendadak pulang ke kampung begitu mendengar kabar tentang permasalah yang tengah menimpa kami, aku dan Doni.
“ Ray, kuatkan hatimu sahabatku. Aku mengenal Doni dan kamu dari sejak kita masih kecil.Aku paham betul bagaimana perasaan mu saat ini. Aku bahkan sama sekali tak percaya dengan berita ini. Sabarkan hati mu, Ray “.Kata Surti ikut menangisi aku.Andai ada banyak orang disekeliling ku yang aku punya.Jika bukan hanya aku anak ibu, jika ada saudara yang aku punya.Mungkin ada banyak orang yang bisa memberi penguat bagi ibu juga bagi ku.Terlintas bayang sosok ayah yang tak pernah hadir dalam hidupku semakin membuatku pilu. Dari sejak aku dilahirkan, Ayah tlah tenang dialam sana. Terlebih melihat sekelilingku, aku bukan orang yang mampu.Sikap saudara – saudara ibu yang menjauh dengan kami membuat dilematis perasaan hatiku smakin mengebu.Hidup bersaudara tapi seperti tak punya saudara.Belum lagi bagaimana kabar itu membuat desas desus tetangga ku yang justru membuat hati ibu dan bahkan aku semakin pilu.Semakin menambah dilema dalam hatiku.Batinku tertekan. Adakah tempat dimana aku bisa menyandarkan hatiku untuk menangis ?adakah tempat dimana aku bisa menuangkan air mata ini ? dimana tempat aku mengadu tentang segala keluh kesah ini ? jika dulu ada Doni bersamaku, yang selalu sabar dan teguh menemaniku bahkan disaat aku terpuruk, dia yang selalu ada menguatkan ku. Tapi kini justru dialah yang kini membuat ku meneteskan air mata, mengingatnya serasa menambah luka.Duh gusti, kembali aku mengeluh. Ku sandarkan semua  kepada mu. Semua cobaan hidup ku pendam seorang sendiri. Hanya mampu ku curahkan dalam hati, ku adukan padaMu. Hatiku menjerit.
Disaat Aku tengah dilanda bingung, bagaimana kedepannya nanti, tentang kerjaan ku.Sebentar lagi habis masa kontrak ku.Selama hampir enam tahun pula aku bekerja di sebuah industri rumahan yang terletak di seberang desa ku. Aku belum bisa memberikan apa – apa kepada ibu. Gaji ku hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari – hari. Terlebih lagi aku harus memikirkan kebutuhan hidup yang harus ku penuhi untuk menapaki jenjang pernikahan. Yang kini aku pasrahkan kepada sang pemberi cinta yang hakiki. Sebenarnya aku ingin pergi merantau, pergi ke ibukota dan mengadu nasib disana. Mengadu nasib tentang anak desa yang tak punya bekal ijasah. “ mau kerja apa kamu jauh – jauh ke Jakarta, bila hanya jadi seorang pembantu “ begitulah kata adik mama mencibir “. ibu sudah tua, tidak punya siapa – siapa selain kamu. Hanya kamu sandaran hidup ibu di dunia yang kini ibu miliki . Keputusan ada ditangan mu ” itulah kata pasrah ibu, ketika aku tengah menimbang – nimbang keinginanku untuk merantau di ibu kota, ketika Sarti, teman semasa SD ku mengajak ku ikut dengannya. Dengan pertimbangan orang tua, aku memilih kerja serabutan di rumah, disamping bekerja aku bisa selalu ada disamping ibu. Benarkah aku selalu ada disamping ibu, bahkan disaat –saat linangan airmata ibu jatuh dalam munajat cintanya kepada sang khalik, saat tengah malam itu. Aku hanya bisa mengamini do’a ibu dengan harapan semoga Allah mengijabahi do’a ibu. Ujian itu sungguh membuat aku malu pada keluarga ku, terutama ibu. Lagi – lagi batinku menangis.
Dan waktu kini berlalu mengikuti arus skenario takdir hidup ku. Pelan – pelan ku ikhlaskan segala sesuatu yang telah terjadi. Hingga disuatu hari, banyak orang ramai dirumah ku, beberapa orang tengah menata kursi, memasang panggung dekorasi pernikahan, suara berisik orang – orang di dapur yang tengah mempersiapkan acara pernikahan kami. Subhanallah, aku menitikan air mata, ungkapan bahagia yang tiada tara yang tak bisa ku ungkapkan lewat bait – bait kata. Aku akan menikah. Dengan siapa ?dengan dia kah yang kau ceritakan diawal tadi ? yah.. kita melewati ujian itu, saat dimana berita itu hanya sebuah fitnah. “ aku mencintai mu, Don. Tolong nikahi aku... lupakah engkau dimalam itu. Ini hasil buah cinta kita “ rengek seorang wanita lain itu, yang entah bahkan aku tak ingin menyebut namanya. ucapan itu sungguh menyayat hati dan kepercayaan ku. Saat itu aku tak bisa membayangkan bagaimana dengan reaksi keluarga kami menerima berita yang mungkin aib ini. Aku tak sanggup berkata apa – apa hanya bisa menguatkan hati ku dan mensuport Doni dan keluarga kami. Dalam hati aku tetap menanam keyakinan bahwa Doni tidak bersalah.Ternyata benar, ujian dalam hidup selalu datang silih berganti, namun janji Allah pasti. Yakinlah, bahwa jodoh kita tak akan tertukar dengan orang lain, maka bersabarlah dalam penantiannya. rizki kita takan diambil orang lain, maka tenangkan lah hati kita. Dan ibadah kita tak mungkin dikerjakan orang lain, maka sibukkanlah diri kita dalam beribadah. Ku Pasrahkan semua tentang hidupku kepadaNya. Hanya Sabar menerima kenyataan yang ada. Hingga tiba hari dimana, sebuah keajaiban datang. Allah menjawab do’a kami, menjawab munajat do’a cinta ibu yang tertuang untuk ku. Doni datang membawa suatu penjelasan tentang kisah yang sebenarnya bersama wanita itu yang kini hadir didepan ku. Ia bersimpuh, memohon ma’af atas kesalahan yang pernah ia lakukan untuk memisahkan kami. Seketika itu pula aku teringat do’a  tulus mu ibu yang kini telah mengembalikan cinta sejati ku ke dunia ku lagi. Terimakasih ibu, aku mencintai mu. Engkau benar, Ketulusan do’a seorang wanita juga penyandaran segala permasalahan hidup kepada sang pemberi kehidupan, Allah lah sebaik – baik penolong dan pelindung.
Tiba – tiba Dion, anakku memeluk ku, menyadarkan aku dari kisah 6 tahun yang lalu, “ mama ayo kita pulang.” Ku tatap wajah suamiku, tersenyum ikut memeluk menguatkanku.“ aku kangen ibu, mas”. Suaraku lirih.Doni mencium keningku. Ku usap airmata yang jatuh membasahi pipi, menaburkan bunga dipusaran pahlawan hidupku, ibu. Aku merindukanmu.